Skip to main content

Pengakuan




Pengakuan 

Di bawah remang-remang cahaya bulan
Sepasang tangan perempuan saling mengatup
Langkah-langkahnya terus berderap
Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan

Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ
Ia menengadah pada langit-langit cakrawala
Lalu berbicara tentang sebuah rencana
Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu

Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah
Ketika halaman bibir tak ingin pasrah
Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang
Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang

Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran
Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan
Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa
Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata

Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu
Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru
Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak
Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak

Ia mendekati tubuh tuan itu
Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi
Sebait kata keluar dari cawan merah hati
Tuan, engkau tak pantas datang kepadaku

Bersabdalah!
Maka jiwaku akan sembuh




Maria Wona


 

Comments

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona