Skip to main content

Posts

HAMBAR

 H A M B A R Hari-hari berlalu sekejap Pertemuan kita memang baru kemarin Aku menatap pupil di matamu Dan mendapati seseorang di sana Aku tak tahu siapakah dia Tetapi kulihat tawamu tercipta Di antara canda yang begitu renyah Sedang aku di sini menatapmu terpaku Sore dan senja memberikan tanda Sepertinya memang telah berbeda Dan aku tak berhak menyalahkan siapa Sedang di antara  kita sedang terjebak gundah Kasih.. Adakah  malam yang lebih romantis Untuk kita saling berbagi arti sebuah mimpi Meski akhirnya kau tak perlu melarikan diri Dari hadapan puisi dan pena yang terus menari-nari Adakah cara yang lebih anggun Untuk kita saling menyampaikan rasa Bahwa kita memang tak pernah sama  Untuk  rasa yang  terus mendera jiwa Jika  memang tak ada niat dan  harapan Jangan kau bangun cinta  jika tak siap Untuk apa kita terlahir sebagai manusia Jika kita menjadi pengecut atas kata-kata Maria Wona
Recent posts

Pesan dan perjalanan(2)

Pesan dan perjalanan(2) Disembuhkannya banyak luka dari perjalanan hari melewati sungai untuk membasuh diri menanjaki gunung ziarah penuh aduh. Kita akan menang dalam darah yang tumpah untuk menebus segala dosa dan luka perjalanan itu. Kita akan berdiri gagah dan melihat kemegahan semesta. Kita bangkit dan memeluk erat pada diri sendiri. Sekali waktu kita berbisik-bisik dalam puisi, jiwaku dan ragaku aku mencintaimu selalu. Tetap setia dalam panggilan hidup. Maria Wona

Pesan dan Perjalanan 1

Pesan dan Perjalanan(1) Hari itu tepat pukul lima pagi Beberapa orang mulai mengukur kayu  dan menyalakan api Ayam berkokok di bilik dedaunan, udara masih basah Sementara di bilik gereja Tua terdengar madah burung gereja Yang memanggil-manggil anak-anak Tuhan, mereka terlalu lama bermain di jalanan Waktu itu kaki mulai beranjak setelah niat dikumpulkan sejak pagi Sebelum mata menatap indahnya altar yang menjadikannya megah di hati anak-anak itu Mereka bermain-main bersama burung gereja sambil mengeja doa-doa paling rahasia Beberapa diantaranya sedang asyik menepi menemui keramaian di dalam sunyi Katup-katup tangan berjejeran diatas meja yang tersambung dari bangku Lilin-lilin menjadi saksi pemberi semangat atas cinta yang telah terbakar Seperti jatuh cinta yang tak pernah mati, ia melebihi kesetiaan dari permulaan Atas hidup yang meluluhlantakan garis tubuh namun menjadikannya utuh dalam alur nafas sesama Waktu itu, mata tak henti-henti memejam, kutemukan puisi yang memelas kecemas...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

Nyanyian Rumput Liar

Nyanyian Rumput Liar ______________________ 1// Pada suatu masa yang merotasi Menukik hingga di pelukan pertiwi Melukis rasa dengan pena nurani Di atas laman puisi penuh misteri Diatas gundukan aku menjajaki Setiap ruas jalan setapak berduri Kutemui rumput liar bernyanyi Mendendangkan lirik puisi onani 2// Rumput-rumput liar tetap bernyanyi Meski ia hidup di belantara sunyi Mendekam pada damai yang ironi Sampai hujan datang menghampiri Angin berhembus menuai janji Mengantar surgawi di atas pertiwi Pun senja yang setia pada hari Menaruh harap antara hidup dan mati 3// Lalu aku berbalik ke arah utara  Menilik beberapa jiwa yang dahaga Pada inspirasi yang selalu menyita Dalam waktu memungut aspirasi nyata Aku tergilas paparan cahaya senja Rumput liar terus menari-nari ria Seakan terus suka merayakan luka Setelah ia benar-benar merdeka 4// Lalu suara-suara semakin lantang bernyala Mengisyarat bahwa siap berkelana Menyampaikan pesan kepada raga Melintasi pojok mata yang terbuka Lalu mem...

Dibalik Ampas Kopi

  Usai kau seduh dinamika Menyaksikan pertemuan semesta Pahit dan manis menyatu dalam tegukan Kau hapuskan surat sakti dengan darah penghabisan Teguh meneguk setelah bertapa Dengan doa yang membakar dada Kau kecup puisi ini dengan bibir penuh kedamaian Mencecap aroma paling pekat selain pengkhianatan Ceritamu kusut di tubuh semesta Saat kita saling ingkar dan merawat lupa  Bukan ingat yang berujung pada persahabatan Antara manusia dan nestapa bersanding kehidupan Sekali kau teguk kalimat isi dada Merawat kental dalam pekatnya romantika Dalam tepi yang berujung  bibir penantian Hingga doa mengerang dalam penindasan Sebab rindu sering mencipta murka Membengal kata-kata tanpa mengeja Sedang retorika menghasut kemanusiaan Dan terpenjara di bawah ruang kebebasan   Kau hanya akan menjadi manusia Yang paham atas sejarah dan cinta Melebamkan tubuhmu dan memberikan kesembuhan Ayat-ayat kopi mati di balik penghabisan Sisa hanya remah-remah dosa Yang tersirat dalam surat tanpa ...

Menggendong Waktu

  Tuhan, mungkin masih terlalu pagi Aku menuliskan puisi untuk mengawali hari Sebagai doa yang suci di antara hiruk-pikuk semesta Segalanya telah menjadi berbeda Ketika mata masih saja terpejam dalam harapan Hari ini telah menjadi pembunuh segala rasa bahagia Jalanan masih saja berlubang  Langkah masih saja terdengar dengan hati-hati Agar bisa melewati jalan itu untuk mendapatkan sukacita Namun waktu belum bisa menjawab Hari ini kami masih dengan keadaan yang sama Kami masih kecil untuk kehilangan apa yang seharusnya ada Aku masih memeluk doa-doa Dan menggendong waktu yang menjelma sebongkah daging Di tubuhnya ada cerita penderitaan penuh air mata Hidup hanyalah taruhan penuh duka Tawa hanyalah bagian penenang sementara  Namun dalam kepanjangan krisis ini kami benar-benar terluka Tubuh tersayat bahkan menjadi patah Hanya kesabaran dan cinta yang menguatkan raga Mengusir dahaga sebuah kasih sayang di antara kejamnya dunia   Tuhan, dalam doa yang terpasang  Dari d...