Skip to main content

Nyanyian Rumput Liar


Nyanyian Rumput Liar
______________________

1//
Pada suatu masa yang merotasi
Menukik hingga di pelukan pertiwi
Melukis rasa dengan pena nurani
Di atas laman puisi penuh misteri

Diatas gundukan aku menjajaki
Setiap ruas jalan setapak berduri
Kutemui rumput liar bernyanyi
Mendendangkan lirik puisi onani

2//
Rumput-rumput liar tetap bernyanyi
Meski ia hidup di belantara sunyi
Mendekam pada damai yang ironi
Sampai hujan datang menghampiri

Angin berhembus menuai janji
Mengantar surgawi di atas pertiwi
Pun senja yang setia pada hari
Menaruh harap antara hidup dan mati

3//
Lalu aku berbalik ke arah utara 
Menilik beberapa jiwa yang dahaga
Pada inspirasi yang selalu menyita
Dalam waktu memungut aspirasi nyata

Aku tergilas paparan cahaya senja
Rumput liar terus menari-nari ria
Seakan terus suka merayakan luka
Setelah ia benar-benar merdeka

4//
Lalu suara-suara semakin lantang bernyala
Mengisyarat bahwa siap berkelana
Menyampaikan pesan kepada raga
Melintasi pojok mata yang terbuka

Lalu memasuki kalbu yang selalu suka
Pada apa dan siapa yang datang padanya
Karena yang pantas adalah sebuah cita
Untuk menuai cinta diantara para pengelana

Setelah bedebah sibuk beronani mesra
Bukan karena rasa cinta dijadikan belaka
Tak ada yang indah selain indahnya surga
Menjaga dalam suci yang meluluhlantakkan jiwa

5//
Lagi-lagi rumput liar itu bercerita
Bukan karena suka atas kisah nyata
Namun luka yang membuatnya menganga
Membuka agar sakit kian hari terasa

Dari atas meja penguasa dan bar-barnya
Tertumpuk cerita-cerita pilu yang lara
Dikubur waktu yang menjadikannya tiada
Namun ia seakan-akan mengejar masa

6//
Aku terus mendengarkan nyanyiannya
Kakiku gemetar karena syahdunya sajak dan rima
Seakan-akan ingin ikut menari bersama 
Menuai sajak pemberontakan atas ironi semata

Rumput-rumput liar terus melelagu asa
Di setiap batang kusut lunglai sebelum patah
Pada arah di atas tanah yang tak basah
Pun kisah dibawa sampai malam menjemput senja

7//
Aku menggores dengan tinta cinta
Mengusur ragu dalam sejarah
Menyapa lupa yang gagal paham
Menyambung retorika yang runtuh

Dari hati bukan logika
Dari mata juga telinga
Dari kaki bukan pantat
Dari nyata bukan belaka

Watulajar, 18 Agustus 2020
Maria Wona


 

Comments

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona