SUARA DI BALIK KABUT
(Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law)
Terima kasih saudaraku
Terima kasih atas pertemuan hari ini
Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan
Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa
Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas
Lima oktober waktu yang kelam
Dewan perwakilan rakyat menyiasati
Kepentingan diri dengan undang-undang
Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat
Menguras nyawa tanpa kemanusiaan
Dewan Perwakilan Rakyat
Dewan Penindas Rakyat
Dimanakah perwakilan yang kau tenteng?
Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan?
Wakil rakyat macam apakah kau?
Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat?
Sumpah hanyalah kebijakan setan
Yang membutakan hati dengan kekuasaan
Lalu lupa pada sebuah keadilan
Untuk seluruh rakyat Indonesia!
Ucapan Pancasila
Hanya bibir pemanis janji
Yang tak dinyatakan dalam tindakan
Kau tahu adalah sebuah pantas
Kau telah menjarah dan menelanjangi Pancasila
Dengan pembungkaman tanpa sebuah demokrasi
Ah....!
Katanya bangsa kita negara demokrasi
Demokrasi seperti apa dan suara mana yang kau dengarkan
Jika bukan suara rakyat kau datangi saat pesta demokrasi?
Demokrasi seperti apakah?
Ketika mematikan mute adalah pembungkaman yang paling biadab?
Demokrasi seperti apakah?
Ketika suara-suara rintihan di pelosok adalah nyanyian suka ria bagi penguasa?
Jika kau mendengar usul untuk apa kau tak memasang telinga
Jika jalur demokrasi dengan dialog untuk apa kau menghilang
Jika untuk pandemi untuk apa undang-undang itu jika itu tidak pro rakyat
Sedang di Indonesia, kesehatan tidak menjadi prioritas
Dan lingkungan alam menjadi gudang para tikus-tikus berdasi
Dari sudut bukit atas mimbar semesta!
Aku akan terus berseru dengan lantang!
Bahwa negara kita yang katanya negara pancasila
Telah menjadi negara Pancasial!
Ketuhanan yang ditandai dengan kebiadaban
Ketika kasus terus mangkrak tanpa ada sebuah kejelasan
Disitu kita dipaksa menyerah pada rencana Tuhan
Sedang dibalik semua adalah pembungkaman manusia atas manusia
Kemanusiaan yang dijarah tanpa humanisme
Ketika aparat keparat hanya dijadikan alat untuk menumpas nyawa
Mendekam kelam tanpa peduli situasi yang runyam
Lalu membekap suara dan aksi tanpa mengindahkan demokrasi
Persatuan bagi para birokrat
Ketika undang-undang dijadikan dasar para keparat untuk memuluskan kepentingan
Suara rakyat dibenggal tidak dengan penghormatan
Demokrasi ditanggalkan untuk melepaskan kejayaan
Kerakyatan yang ditumpas atas kebijakan
Ketika Omnibus Law diciptakan justru membunuh ratusan nyawa
Ratusan anak-anak kata terlahir prematur dan cacat mental
Pantaskah kita mengangkangi kaki bumi pertiwi dengan penjarahan?
Keadilan sosial bagi para pengusaha
Ketika Undang-undang omnibus law lebih mengakomodir pengusaha
Agar mereka leluasa berkuasa di tanah rakyat yang digarap
Hanya untuk sebuah perselingkuhan penguasa dan pengusaha
Sayangku,
Dengarkanlah suaraku.
Aku masih memeluk segala ratap anak-anakku
Dengan darah yang menetes dari rahimku sendiri
Dengan peluh yang bercucur bercerita tentang pilu
Jangan kau bunuh diriku dan anak-anakmu !
Jangan bunuh mimpi-mimpi dan puisi
Aku masih ingin menari disini
Memeluk suara yang terlahir dari sanubari
Huuuuu.....huuuuuuu.....huuuuuuu
Hikss..hikkss...hikkksss
Hei!
Dengarkanlah nyanyian duka itu
Nyanyian bayi-bayi dan ibu-ibu terlantar
diatas tanah sendiri
Dibawah meja perayaan kaum unjuk gigi
Bukan unjuk aspirasi mata batin yang tersakiti
Bukan dengan mata yang tertutup
Bukan dengan hati yang tumpul
Bukalah hatimu leluasa dengan terbuka
Buka hatimu untuk rakyat
Jangan biarkan tanah leluhur dijarah
Jangan biarkan kaum kongkalingkong berkuasa
Sedang desa dan masyarakat adalah basis utama
Untuk pemberdayaan rakyat Indonesia
Kita butuh solusi lain bukan dengan Omnibus Law
Kita butuh cara lain untuk mengentaskan keparat
Mari bangun dialog yang transparan dan akuntabel
Marilah sayang
Dekatlah pada dada ini
Mari mencecap lebih dari isi hati
Tentang mimpi-mimpi dan aspirasi
Maria Wona
Comments
Post a Comment