Skip to main content

Menggendong Waktu

 



Tuhan, mungkin masih terlalu pagi

Aku menuliskan puisi untuk mengawali hari

Sebagai doa yang suci di antara hiruk-pikuk semesta


Segalanya telah menjadi berbeda

Ketika mata masih saja terpejam dalam harapan

Hari ini telah menjadi pembunuh segala rasa bahagia


Jalanan masih saja berlubang 

Langkah masih saja terdengar dengan hati-hati

Agar bisa melewati jalan itu untuk mendapatkan sukacita


Namun waktu belum bisa menjawab

Hari ini kami masih dengan keadaan yang sama

Kami masih kecil untuk kehilangan apa yang seharusnya ada


Aku masih memeluk doa-doa

Dan menggendong waktu yang menjelma sebongkah daging

Di tubuhnya ada cerita penderitaan penuh air mata


Hidup hanyalah taruhan penuh duka

Tawa hanyalah bagian penenang sementara 

Namun dalam kepanjangan krisis ini kami benar-benar terluka


Tubuh tersayat bahkan menjadi patah

Hanya kesabaran dan cinta yang menguatkan raga

Mengusir dahaga sebuah kasih sayang di antara kejamnya dunia

 

Tuhan, dalam doa yang terpasang 

Dari depan altar wajah ini bersimpuh tunduk

Memohon restumu untuk perjalanan yang panjang ini


Hari-hari menjadi tragedi  

Akan menjadi catatan abadi dalam sejarah

Luka ini akan terus kami obati dengan doa dan petuah leluhur


Maria Wona

Comments

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona