Skip to main content

Pesan dan Perjalanan 1



Pesan dan Perjalanan(1)


Hari itu tepat pukul lima pagi
Beberapa orang mulai mengukur kayu 
dan menyalakan api
Ayam berkokok di bilik dedaunan,
udara masih basah
Sementara di bilik gereja Tua
terdengar madah burung gereja
Yang memanggil-manggil anak-anak Tuhan,
mereka terlalu lama bermain di jalanan

Waktu itu kaki mulai beranjak
setelah niat dikumpulkan sejak pagi
Sebelum mata menatap indahnya altar
yang menjadikannya megah di hati anak-anak itu
Mereka bermain-main bersama burung gereja
sambil mengeja doa-doa paling rahasia
Beberapa diantaranya sedang asyik menepi
menemui keramaian di dalam sunyi
Katup-katup tangan berjejeran diatas meja
yang tersambung dari bangku
Lilin-lilin menjadi saksi pemberi semangat
atas cinta yang telah terbakar

Seperti jatuh cinta yang tak pernah mati,
ia melebihi kesetiaan dari permulaan
Atas hidup yang meluluhlantakan garis tubuh
namun menjadikannya utuh dalam alur nafas sesama
Waktu itu, mata tak henti-henti memejam,
kutemukan puisi yang memelas kecemasan
Mendambakan kemanusiaan di balik pernyataan
yang dibentang di kaki langit Makassar 
Segala yang berakar enggan bersiar,
doa kini lebur menyatu menjadi subur

Dari kaki langit hari dan hujan
yang awalnya ialah Minggu Palma dan sorak-sorai
Berangsur surut digantikan tangis dan kematian
kita kalah dan pasrah namun tak ingin kalah
Doa-doa kita masih jatuh di setiap ladang 
yang subur dan ada penjaganya
Penjaganya itu baik dan sederhana
sekali waktu ia selalu menuliskan tentang kemanusiaan
Dalam kitab-kitab kecil dan seruan android 
yang tak pernah dilepaskan
Ia juga berkarya membentuk karsa
dalam karya maha agung penuh sakralitas

Setiap malam penuh berbatu dan penuh api
Petuah itu datang seperti tamu yang ingin menetap
membuat tuan rumah jatuh hati 
Namun tuan rumah itu tahu dan sadar diri
bahwa segalanya tak selalu baik bisa jadi  ia buruk
Selebihnya ia menyiasati diri dengan strategi
untuk menata tragedi agar tak  berujung tragis
Dan kata-kata itu datang silih berganti
diantara orang-orang yang dititipkan semesta
Memberikan peringatan di setiap laku dan amarah
sedangkan kita adalah akal dan nalar yang menolak liar
Sebab hukum alam telah lama bekerja 
dan kita telah hidup didalamnya

Kasihku,..
Tak  ada yang lebih istimewa dari tinta 
yang digenggam  perasaan atas sebuah kenyataan
Ketika cinta yang diagung-agungkan kita
hanyalah ilusi yang menyehatkan jiwa dan  raga
Kita lupa bahwa ada perih yang menyakitkan
ketika  mencintai tidak  sekedar memberi cincin
atau memberi bunga, itu hanya momentum belaka
Kita lupa setelah itu ada banyak luka  
yang seharusnya disembuhkan, 
yang  sengaja ditutupi bahwa kita baik-baik saja
Kita lupa dibalik kesenangan ada tangis
yang merongrong memaksa jiwa meneteskan air mata
raga adalah jawabannya dan tangis adalah liriknya

Tak ada yang bisa dibayangkan 
ketika hari telah berangsur malam
Kita masih di sini menikmati alur hidup 
yang disediakan semesta seturut kehendaknya
Kita memastikan bahwa kewaspadaan adalah satu hal
yang perlu untuk menjamin keselamatan
Banyaklah membaca kasihku, 
Membacalah apa saja, baca fenomena dan wacana
dan jangan  kebanyakan berlagak canda apalagi menonton
Jangan menonton perubahan
tetapi terlibatlah dan belajar dari perubahan itu
Bangsa kita butuh orang-orang pembaharu
bukan  penerus, sebab bangsa kita sudah kotor
Baik korupsi, degradasi kemanusiaan, ketidakadilan,
krisis HAM, dan kerusakan lingkungan 
Masih banyak masalah yang kompleks 
hadir di tengah kita

Kekasihku,..
Untuk kita ketahui
sadar diri bahwa segalanya bermula dari isi kepala
Untuk apa yang dibaca pakailah tubuh kita sebagai berkat
Selain dari obat dan jamu para  tabib
kita adalah dokter terbaik untuk diri kita sendiri
tabib yang baik untuk bangsa kita sendiri
Jangan mau bergantung dengan adopsi 
yang membuat kita lupa diri dan akhirnya membungkam tubuh sendiri
Kita harus berdiri dan bangkit 
dan jangan kehilangan diri sendiri




Maria Wona


 

Comments

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona