Skip to main content

Dibalik Ampas Kopi


 

Usai kau seduh dinamika

Menyaksikan pertemuan semesta

Pahit dan manis menyatu dalam tegukan

Kau hapuskan surat sakti dengan darah penghabisan


Teguh meneguk setelah bertapa

Dengan doa yang membakar dada

Kau kecup puisi ini dengan bibir penuh kedamaian

Mencecap aroma paling pekat selain pengkhianatan


Ceritamu kusut di tubuh semesta

Saat kita saling ingkar dan merawat lupa 

Bukan ingat yang berujung pada persahabatan

Antara manusia dan nestapa bersanding kehidupan


Sekali kau teguk kalimat isi dada

Merawat kental dalam pekatnya romantika

Dalam tepi yang berujung  bibir penantian

Hingga doa mengerang dalam penindasan


Sebab rindu sering mencipta murka

Membengal kata-kata tanpa mengeja

Sedang retorika menghasut kemanusiaan

Dan terpenjara di bawah ruang kebebasan

 

Kau hanya akan menjadi manusia

Yang paham atas sejarah dan cinta

Melebamkan tubuhmu dan memberikan kesembuhan

Ayat-ayat kopi mati di balik penghabisan


Sisa hanya remah-remah dosa

Yang tersirat dalam surat tanpa suara

Diam dalam tangisan penuh kepasrahan 

Kau hanya ampas tanpa makna tanpa harapan


Maria Wona

Comments

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona