Skip to main content

IKRAR SUMPAH PEMUDA BERLUKA


IKRAR SUMPAH PEMUDA BERLUKA

Suatu malam diantara bayang-bayang
Ibu pertiwi menangis dan menimang-nimang
Bayi-bayi kecil dan air mata jatuh tergeletak
Dari ranjang biru lautan dan pulau yang berarak

Suatu malam dalam remang-remang
Pemuda Indonesia dan pikiran mengerang
Ibu mengadu juang atas darah ditanah retak
Menitipkan kepada pemuda cinta di atas pundak

Setelah tiga puluh lima abad Belanda berkuasa
Memecah belah persatuan di atas tanah berluka
Tangis isak pertiwi menahan luka bersimbah darah
Rahim dikoyak dijarah kasar para penjajah

Pemuda Indonesia membuka mata dan pikiran
Tentang Nusantara, kesatuan dan persatuan
Meretas ide merekat raga atas luka yang sama
Untuk Indonesia Muda menuju kemerdekaan

Delapan organ pelajar-pelajar dan pemuda
Menenteng kata hati yang abadi di tangannya
Meneriaki dengan suara lantang atas cakrawala
MERDEKA!!

30 April - 2 Mei 1926 Kongres Pemuda I
Pemuda melingkar atas cinta
Bersedia setia demi tujuan mulia
Untuk satu bangsa bangsa Indonesia

27 Oktober - 28 Oktober Kongres Pemuda II
Masa yang panjang bergolak dinamika
Mencetak sejarah bukan cerita dongeng belaka
Diatas tubuh pertiwi yang menaruh murka

Pun lirik dan gaung Indonesia diperkenalkan
Dari ruang menyebar ke seluruh radio dikumandangkan
Kebekuan hati perlahan lebur menyambut kesetiaan
Nasionalisme dan semangat persatuan dieratkan

Inilah gambaran pemuda dan pemudi Indonesia
Bersatu padu Nusantara atas Indonesia Muda
Kedaerahan bukan lagi alasan berbeda
Tetapi persatuan atas nasib yang sama

Pemuda bersatu dalam satu ikrar
Diatas sakramen cinta yang berakar
Memeluk jiwa dengan kata yang mengakar
Mari kita kumandangkan SUMPAH PEMUDA!

1. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumoah darah yang satu tanah air Indonesia
2. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia
3. Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan  bahasa Indonesia

Langkah awal persatuan menuju kemerdekaan
Kini menjadi pertanyaan atas perjuangan
Bagi kita yang sibuk berbangga dengan akun pribadi
Tetapi sibuk di dunia medsos dan berlagak provokasi

Kita sibuk menuai komentar di kolom berita
Seakan maya menjawab dengan sukaria
Candu media sosial adalah pilihan yang gila
Ketika akal dan logika terkuras diambang luka

Kita sibuk mengejar prestasi di kampus 
Tetapi kita memilih antipati tak mau ikut mampus
Mempertahankan diri yang paling benar dalam rumus
Tetapi ciut ketika problematika terus menghunus

Kita lupa akan sebuah persatuan
Kita lupa akan sebuah persaudaraan
Kita lupa akan ikrar kepemudaan
Kita lupa akan kebenaran dan kemerdekaan

Sumpah yang pernah kau ucapkan 
Tidak menjadi berarti ketika kau telah ada di persidangan
Ketika kau gadaikan semua untuk  segala kepentingan
Sumpah ini dibiarkan terluka tanpa pemaknaan

Bagi kita yang katanya mau membangun negara
Tetapi lupa pada keberadaban bangsa
Bagi kita yang katanya mau mengubah dari desa
Tetapi kita sibuk mengejar nilai dan harga

Masyarakat adalah bagian dari persatuan
Masyarakat butuh sebuah gerakan
Bukan untuk memisahkan melainkan menyatukan
Bukan untuk pribadi melainkan kebersamaan

Maria Wona

Comments

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona