Skip to main content

ONANI TUBUH NEGERI



Onani Tubuh Negeri

__________________

(Inspirasi Tambang di Tanah Manggarai Timur)


Marilah sayangku...

Mari kita menari di atas ranjang

Yang menyimpan misteri penuh abu

Ketika kau bersanding padaku

Kau akan tahu siapa aku dan deritaku


Marilah sayangku...

Mari masuk ke dalam diriku

Tubuh yang penuh goresan

Dari angkuhnya birokrasi

Dan kejamnya struktur 


Kau akan tahu sayangku...

Ketika payudaraku di paksa

Memeras air susu untuk orang kecil

Orang- orang serakah menghujam

Lalu mencakar kesucian surgaku


Aku masih setia meminang kehidupan

Agar tetap ada dan berkelanjutan

Nyatanya aku terjerat dalam kungkungan

Yang penuh amarah dan keegoisan

Anak-anakku menangis dalam kepolosan


Sayangku,...

Sekalipun kau meronta ingin menjarah tubuhku

Kau akan memerahkan bibirku dengan gincu

Kau melumatnya dengan paksa tanpa malu

Aku masih terlalu lemah untuk menghalu

Kau masih merajai atas diriku yang lesu


Kau tahu sayangku....

Setelah pulang dari mimpi-mimpi basahmu

Barangkali kau akan mengerti tentang manisnya janji

Mengugah darah menuju setiap ruas nadi

Justru mengubah nyata yang mengharu biru

Lantas mengubah semua berpaling pada nafsu


Kau tahu sayangku...

Apa artinya cinta yang dibelai lembut

Ketika menghargai adalah sebuah pemujaan

Atas karsa dan rasa cinta yang ilahiah

Kau akan mengerti dengan rasa yang tabah

Dan sadar bahwa semua butuh kasih sayang


Hujamkan tubuhku dengan seribu diksi

Kenakanlah aku dengan jubah literasi

Dan mahkotai aku dengan kelembutan dan kasih

Jangan kau hancurkan aku di atas nafsu


Sebab aku akan mengandung anak kata

Lalu melahirkan karsa di seribu masa

Dan menjadikan sejarah dan cerita

Anak-anak kita akan bernyanyi ria


Jangan kau bunuh ratusan asa

Yang tertanam di mata anak-anak

Bahwa mereka mempunyai hak-hak

Untuk menjaga dan mengelola 


Jangan kau bungkam tubuh ini

Tubuh yang terbuat dari tanah janji

Yang menyimpan seribu mimpi

Tertanam erat di naluri anak negeri


Riung, 1 Juli 2020

Maria Wona


Comments

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona