Skip to main content

RASA SEBATAS NARSIS

RASA SEBATAS NARSIS

Suatu sore
Jumad menitipkan malam kepada Sabtu
Lalu malam itu dibentangkan 
pada beranda kalbu
Sabtu mengambil segumpal kata
yang terbuat dari imajinasi
Memintalnya menjadi benang-benang
atas apirasi hati yang tak mati-mati

Lalu ia menamainya birahi
ketika sentuhan membuatnya terus membakar
Pada akar-akar hati yang terkapar dan lapar
Malam itu..
Segumpal kata yang lain datang
dan jatuh pada pelukan birahi
Remuk jiwanya sebab ia adalah perasaan 
yang memilih meresap cinta dan kesetiaan

Keduanya saling memintal diri
dalam kata-kata
Dalam sakramen ranjang aksara
yang tak lekang dalam riuhnya desah tinta
Memeluk erat dekat dan
saling menghunjuk dada
Atas isi jiwa yang menolak 
terbang pada kesia-siaan

Malam itu...
Sabtu menyutradarai waktu
yang memilih jatuh
Menggores kenangan pada bisu 
yang melepuh
Ketika rasa cinta dihunjuk atas
gadget
Memilih merekam jejak sebatas
layar atas cinta

Itu bukan cinta!

Ketika pertunjukan malam 
memilih narsis soal rasa

Itu bukan cinta!

Ketika pelukan gelap bergerak 
sebagai pemuas nafsu belaka

Itu bukan cinta!

Ketika rasa diaduk dalam
paham berkedok daun salam

Itu narsis Sayang!

Pada akhirnya,
Sesudah drama berakhir 
Suara parau dan lelah terakhir
Kedua gumpalan kata memilih abadi
Diatas guratan cerita yang disutradarai

Pesan dipungut tanpa bersungut-sungut
Sebelum jatuh pun bertekuk lutut
Menyesali malam yang paling kabut
Saat kita memilih jalur hidup sistem kebut



Maria Wona

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

SUARA DIBALIK KABUT

SUARA DI BALIK KABUT (Edisi tolak Undang-undang Omnibus Law) Terima kasih saudaraku Terima kasih atas pertemuan hari ini Ketika kita menyaksikan banyak penderitaan  Yang dialami oleh rakyat, buruh dan mahasiswa Tuhan memberkati keberpihakan atas rakyat yang tertindas Lima oktober waktu yang kelam Dewan perwakilan rakyat menyiasati Kepentingan diri dengan undang-undang Omnibus Law penyedot hak-hak rakyat Menguras nyawa tanpa kemanusiaan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Penindas Rakyat Dimanakah perwakilan yang kau tenteng? Dimanakan aspirasi yang kau sampaikan? Wakil rakyat macam apakah kau? Ketika memilih mendengar penguasa ketimbang rakyat? Sumpah hanyalah kebijakan setan Yang membutakan hati dengan kekuasaan Lalu lupa pada sebuah keadilan Untuk seluruh rakyat Indonesia! Ucapan Pancasila  Hanya bibir pemanis janji Yang tak dinyatakan dalam tindakan Kau tahu adalah sebuah pantas  Kau telah  menjarah dan menelanjangi Pancasila Dengan pembungkaman tanpa sebuah...

Pengakuan

Pengakuan  Di bawah remang-remang cahaya bulan Sepasang tangan perempuan saling mengatup Langkah-langkahnya terus berderap Dan bilur-bilur keringat pecah di jalanan Tiba-tiba seorang tuan mampir di situ Ia menengadah pada langit-langit cakrawala Lalu berbicara tentang sebuah rencana Perempuan itu tetap diam dalam doa-doa bisu Hanya sebuah rasa yang digenggam tabah Ketika halaman bibir tak ingin pasrah Mengemas cerita dari waktu-waktu yang terbuang Ia hanya ingin berbagi arti hidup dan peluang Tuan itu tetap bertahan dengan kesabaran Ditatapnya wajah dan selembar bibir perempuan Ia gagap dan tak berkata apa-apa untuk menyapa Perempuan itu terjebak dalam keheningan yang nyata Bisik-bisik hujan datang memecahkan keheningan itu Perempuan itu menyelesaikan sebait puisi baru Tentang rindu dan pertemuan yang tak sepihak Ia tak punya kuasa untuk terus mengelak Ia mendekati tubuh tuan itu Di tarik dadanya dan lelaki itu membiarkannya terjadi Sebait kata keluar dari cawan merah hati Tuan, en...

MELEPAS LUKA DI MALAM MINGGU

LEPAS LUKA DI MALAM MINGGU Selepas malam menutup tirai senja Akankah pagi merobek duka? Selepas raga menghujam jiwa Dengan segala luka murka Malam menistakan remah-remah Yang tersisa dari kenangan basah Dihalaman ingatan dan nafas berdesah Rintik puisi pada malam yang resah Sudahlah.. Kita terlalu muda merawat luka Jiwa kita masih ingin terus tertawa Melewati dinamika penuh dusta Menatap segala tatapan penuh suka Untukmu... Selamat bermalam minggu Semoga selalu ada tempat berteduh Setelah melewati tubuh hari yang rapuh Biarkan cinta memelukmu sendu Maria Wona