SUARA TANGIS DARI TIMUR
_____________________________
Suatu pagi aku sedang berjalan
Aku menikmati indahnya alam sekitarnya
Dan dengan riakan ombak di lautan
Tiba-tiba terdengar olehku sebuah suara
Aku berjalan lagi dan mencari-cari suara itu
Sampailah aku pada perempuan yang berseteru
Ia menangis sambil memeluk anak-anaknya
Sambil memungut-mungut sisa-sisa harapan
Aku terus menyapa lalu terisak akan cerita
Menggugah hati dengan seribu realita
Wajahnya penuh dengan bekas pukulan
Memar berdarah dan penuh ddngan berak
Perempuan itu terus menangis sedih
Tepat di sana terdengar gelak tawa sang suami
Sambil ia sibuk menukar koin penuh bahagia
Tanpa ada rasa iba dan tanpa kasihan
Ah Tuan,..
Masih ingatkah kau dengan sumpah janjimu
Yang kau ucapkan di atas altar Tuhan
Bahwa kau akan menjamin kebahagiaan istri dan anakmu
Kau telah membalikkan semua menjadi janji palsu
Lalu kau peras paksa mereka seturut maumu
Kau telah gagal memahami keadaan mereka
Jangan kau habisi mereka dengan serakah
Sebab mereka butuh tumbuh yang terus berkembang
Jangan kau jadikan cinta berkedok nafsu
Hanya demi memuluskan kepentinganmu
Lalu kau biarkan wajah-wajah mereka muram
Dengan seribu goresan dan memar menyakitkan
Tuan,..
Coba dengarlah rintikan air mata itu
Mengalir membasahi tubuh perempuanmu itu
Yang lahir dari mata anak-anakmu
Jangan kau bungkam bahasa hati yang jujur
Sebab air mata adalah sebuah kejahatan
Yang kau ciptakan setelah membuang harapan
Lalu kau membiarkannya tergelatak mati
Anak-anakmu masih menanti dengan hati
Jangan sekali-sekali kau menjanjikan kehidupan
Jika bukti yang mencerminkan kerasnya hati
Dan tumpulnya logika berpikir tanpa di asa
Justru mengubah jalan kita ke arah yang retak
Tuan,...
Sekiranya kau berhenti sejenak dengan tawa picikmu
Dekatilah istri dan anak-anakmu yang menanggung pilu
Dengarkan rintihan hati dan sembuhkanlah mereka
Jangan kau berikan janji - janji berkedok kapitalis
Masih ada cara lain yang pantas di jalankan
Jangan kau ciptakan pilu dan penjarahan
Berdayakan mereka dengan kasih dan sayang
Agar semangatmu dan semangat mereka membakar
Lalu menciptakan bahagia tanpa saling melukai
Dan membangun fondasi rumah menjadi kediaman
Yang bahagia tanpa ada perpecahan dan retak
Mari mengamini dalam doa tanpa jeda dalam waktu
Riung, 4 Juli 2020
Maria Wona
Comments
Post a Comment